Rabu, 22 Mei 2013

Skripsi MIPA

By Admin | At 21.01 | Label : | 0 Comments

  1. Pengembangan media pembelajaran berbasis website materi laju reaksi dan kesetimbangan kimia melalui kegiatan praktikum sebagai media pembelajaran mandiri untuk peserta didik SMK kelas X1 download
  2. Pengaruh penerapan pembelajaran inkuipi terbimbing melalui metode eksperimen terhadap hasil belajar IPA pada tema perubahan materi bagi siswa Kelas VII SMP N 1 Godean download
  3. Perbedaan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Pokok Bahasan Alat Optik Antara Siswa Yang diberi Pembelajran Dengan Project Based Learing Model dan Problem Based Learning Model SMP N 15 Yogyakarta download 
  4. Pendekatan Pembelajaran Fisika Berbasis Masalah Dengan Penekanan Representasi Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif download 
  5. Perbedaan Metode Eksperimen Penemuan Dengan Eksperimen Pembuktian Ditinjau Dari Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X MAN Yogyakarta 1 Pada Materi Pokok Listrik Dinamis download
  6. Pengaruh Pendekatan Inquiry Based Learning (IBL) Terhadap Prestasi Belajar dan Motivasi Belajar Pada Mata Pelajaran Fisika Kelas X Semester 1 SMA N 1 Sedayu Bantul download 
  7. Perbedaan Hasil Belajar Fisika Siswa Pada Model Pembelajaran Kolaboratif Group Investigation Mengunakan LKS Tidak Terbimbing dan LKS Terbimbing download 
  8. Hubungan Antara Kinerja Siswa Dan Sikap Siswa Dengan Kegiatan Eksperimen Hukum Ohm Kasus Pada Siswa Kelas X Sma Negeri 4 Yogyakarta download 
  9. Hubungan Konsumsi Makanan Yang Mengandung Gluten Terhadap Derajat Hiperaktivitas Anak Penyandang Autis Dan Anak Normal Di Daerah Istimewa Yogyakarta download 
  10. Penyusunan Video Karakteristik Vegetasi Pantai Trisik Sebagai Alternatif Sumber Belajar Sub-Materi Kekhasan Ekosistem Pesisir Pantai Pasir Untuk Siswa SMA download 
  11. Gambaran Status Antropometri Gizi Dan Kaitannya Dengan Perkembangan Anak Penyandang Autis Di Sekolah Khusus Autis Daerah Istimewa Yogyakarta download

Selasa, 21 Mei 2013

Cara Pemberian Cairan Pendingin

By Admin | At 22.23 | Label : | 0 Comments


Banyak cara yang dipraktikkan untuk mengefektifkan pemakaian cairan pendingin sebagai berikut. 
  1.  Secara manual. Apabila mesin perkakas tidak dilengkapi dengan sistem cairan pendingin, misalnya mesin gurdi atau frais jenis ”bangku” (bench drilling/milling machine) maka cairan pendingin hanya dipakai secara terbatas. Pada umumnya operator memakai kuas untuk memerciki pahat gurdi, tap, atau frais dengan minyak pendingin. Selama hal ini dilakukan secara teratur dan kecepatan potong tak begitu tinggi maka umur pahat bisa sedikit diperlama. Penggunaan alat sederhana penetes oli yang berupa botol dengan selang berdiameter kecil akan lebih baik karena akan menjamin keteraturan penetesan minyak. Penggunaan pelumas padat (gemuk/ vaselin, atau molybdenum-disulfide) yang dioleskan pada lubang-lubang yang akan ditap sehingga dapat menaikkan umur pahat pengulir.
  2. Disiramkan ke benda kerja (flood application of fluid). Cara ini memerlukan sistem pendingin, yang terdiri atas pompa, saluran, nozel, dan tangki. Itu semua telah dimiliki oleh hampir semua mesin perkakas yang standar. Satu atau beberapa nozel dengan selang fleksibel diatur sehingga cairan pendingin disemprotkan pada bidang aktif pemotongan. Keseragaman pendinginan harus diusahakan dan bila perlu dapat dibuat nozel khusus. Pada pemberian cairan pendingin ini seluruh benda kerja di sekitar proses pemotongan disirami dengan cairan pendingin melalui saluran cairan pendingin yang jumlahnya lebih dari satu 
  3. Disemprotkan (jet application of fluid). Penyemprotan dilakukan dengan cara mengalirkan cairan pendingin dengan tekanan tinggi melewati saluran pada pahat. Untuk penggurdian lubang yang dalam (deep hole drilling; gun-drilling) atau pengefraisan dengan posisi yang sulit dicapai dengan semprotan biasa. Spindel mesin perkakas dirancang khusus karena harus menyalurkan cairan pendingin ke lubang pada pahat. Pada proses pendinginan dengan cara ini cairan pendingin disemprotkan langsung ke daerah pemotongan (pertemuan antara pahat dan benda kerja yang terpotong). Sistem pendinginan benda kerja dibuat dengan cara menampung cairan pendingin dalam suatu tangki yang dilengkapi dengan pompa yang dilengkapi filter pada pipa penyedotnya. Pipa keluar pompa disalurkan melalui pipa/selang yang berakhir di beberapa selang keluaran yang fleksibel, . Cairan pendingin yang sudah digunakan disaring dengan filter pada meja mesin kemudian dialirkan ke tangki penampung. 
  4. Dikabutkan (mist application of fluid). Pemberian cairan pendingin dengan cara ini, cairan pendingin dikabutkan dengan menggunakan semprotan udara dan kabutnya langsung diarahkan ke daerah pemotongan, (Gambar 11.3). Partikel cairan sintetik, semi sintetik, atau emulsi disemprotkan melalui saluran yang bekerja dengan prinsip seperti semprotan nyamuk. Cairan dalam tabung akan naik melalui pipa berdiameter kecil, karena daya vakum akibat aliran udara di ujung atas pipa, dan menjadi kabut yang menyemprot keluar. Pemakaian cairan pendingin dengan cara dikabutkan dimaksudkan untuk memanfaatkan daya pendinginan karena penguapan.

Teori Medan Garis Slip

By Admin | At 22.11 | Label : | 0 Comments
Untuk memahami analisis teori ini marilah kita perhatikan terlebih dahulu proses pembentukan logam sederhana, yaitu proses indentasi tanpa gesekan di mana lebar indentornya, b, sama dengan tebal logam, t, di mana pola aliran logam atau medan garis slipnya dapat dilihat pada Gambar 4-2. Untuk perbandingan nilai t dan b yang lain, asumsi medannya berbeda, seperti dapat dilihat pada. Pada kasus tersebut kondisi regangan bidang akan terjadi pada kondisi di mana lebar dari logam, w, jauh lebih besar daripada tebalnya. Dengan bergeraknya indentor dan bertambah tipisnya logam, sebenarnya pola-pola aliran logam atau medan garis slip tersebut akan berubah. Tetapi karena yang menjadi perhatian kita adalah prediksi dari beban yang menyebabkan mulai terjadinya deformasi, maka kita tetap dapat mengacu pada pola tersebut. Sebelum membahas lebih mendalam mengenai kondisi regangan bidang, sementara ini kita telah mengetahui bahwa kondisi regangan bidangan adalah kondisi di mana regangan pada salah satu arah sumbu utamanya (dalam hal ini pada arah lebar) adalah sama dengan nol. Pada kondisi ini, sistem tegangan yang terjadi adalah seperti pada deformasi geser murni (pure shear), di mana pada kondisi tersebut, luluh terjadi pada saat tegangan maksimumnya sama dengan tegangan luluh geser dari logam. Menurut teori analisis medan garis slip, yang dimaksud dengan garis medan slip adalah garis atau bidang di mana terjadi tegangan geser maksimum, yang pada kondisi di atas arahnya adalah membuat sudut 45o dengan arah sumbu-sumbu Analisis Proses Pembentukan Logam utama. Tegangan –tegangan di dalam medan tersebut dapat dihitung secara statika. Hal ini merupakan salah satu perbedaan penting antara Teori Medan Garis Slip ini dan Teori Analisis Batas Atas (Upper Bound Theory) atau Kinematically Admissable Theory, yang tidak memperhatikan sama sekali kesetimbangan gaya pada tiap-tiap medan aliran logam.

Asumsi-asumsi yang dipergunakan dalam teori ini, yang berlaku secara umum, selain yang telah disebutkan tadi, adalah material adalah bersifat homogen dan isotropis, dan berperilaku rigid plastis ideal. Efek dari temperatur, laju regangan dan waktu, dalam hal ini dapat diabaikan. Asumsi lain yang penting adalah bahwa pada batasbatas (internal boundary), terjadi tegangan geser yang konstan. Pada saat terjadi mulai aliran logam atau deformasi plastis, maka tegangan geser pada garis-garis medan slip tersebut, di mana pun posisinya, adalah tepat sama dengan besarnya dengan kekuatan geser luluh dari logam, k. Masalahnya, dalam hal ini adalah bagaimana kita dapat menentukan arah dari tegangan luluh geser (k) atau tegangan geser maksimum serta bagaimana menentukan besarnya gaya tekan (F) dari arah dan besar dari tegangan-tegangan utamanya. Untuk memperjelas, marilah kita kembali kepada masalah deformasi regangan bidang sederhana di atas. Pada kasus tersebut, arah dari bidang tegangan geser maksimum atau medan garis slip telah dapat ditentukan, yaitu pada arah 45o terhadap arah dari bidang-bidang tegangan utama. Arah vertikal atau arah dari beban yang diberikan dan arah horisontal, yaitu arah dari aliran logam, dalam hal ini adalah arah dari bidang-bidang utama. Besarnya beban atau gaya yang diberikan adalah sama arahnya dengan salah satu tegangan utama. Sedangkan tegangan utama pada arah sumbu utama lainnya, yang tegak lurus pada tegangan utama tersebut, besarnya adalah nol, karena pada arah horisontal material mengalir tanpa mengalami hambatan.

Senin, 18 Februari 2013

Sifat Logam

By Admin | At 22.29 | Label : | 0 Comments
Logam mempunyai beberapa sifat antara lain: sifat mekanis, sifat fisika, sifat kimia, dan sifat pengerjaan. Sifat mekanis adalah kemampuan suatu logam untuk menahan beban yang diberikan pada logam tersebut. Pembebanan yang diberikan dapat berupa pembebanan statis (besar dan arahnya tetap), ataupun pembebanan dinamis (besar dan arahnya berubah). Yang termasuk sifat mekanis pada logam, antara lain: kekuatan bahan (strength), kekerasan elastisitas, kekakuan, plastisitas, kelelahan bahan, sifat fisika, sifat kimia, dan sifat pengerjaan. 

Kekuatan (strength) adalah kemampuan material untuk menahan tegangan tanpa kerusakan. Beberapa material seperti baja struktur, besi tempa, alumunium, dan tembaga mempunyai kekuatan tarik dan tekan yang hampir sama. Sementara itu, kekuatan gesernya kira-kira dua pertiga kekuatan tariknya. Ukuran kekuatan bahan adalah tegangan maksimumnya, atau gaya terbesar persatuan luas yang dapat ditahan bahan tanpa patah. Untuk mengetahui kekuatan suatu material dapat dilakukan dengan pengujian tarik, tekan, atau geser. 


Kekerasan (hardness) adalah ketahanan suatu bahan untuk menahan pembebanan yang dapat berupa goresan atau penekanan. Kekerasan merupakan kemampuan suatu material untuk menahan takik atau kikisan. Untuk mengetahui kekerasan suatu material digunakan Uji Brinell. 

Kekakuan adalah ukuran kemampuan suatu bahan untuk menahan perubahan bentuk atau deformasi setelah diberi beban. Kelelahan bahan adalah kemampuan suatu bahan untuk menerima beban yang berganti-ganti dengan tegangan maksimum diberikan pada setiap pembebanan. 

Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk kembali ke bentuk semula setelah menerima beban yang mengakibatkan perubahan bentuk. Elastisitas merupakan kemampuan suatu material untuk kembali ke ukuran semula setelah gaya dari luar dilepas. Elastisitas ini penting pada semua struktur yang mengalami beban yang berubah-ubah terlebih pada alat-alat dan mesin-mesin presisi. Plastisitas adalah kemampuan suatu bahan padat untuk mengalami perubahan bentuk tetap tanpa ada kerusakan. 

Sifat fisika adalah karakteristik suatu bahan ketika mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas atau listrik. Yang termasuk sifat-sifat fisika adalah sebagai berikut: titik lebur, kepadatan, daya hantar panas, dan daya hantar listrik. Sifat kimia adalah kemampuan suatu logam dalam mengalami peristiwa korosi. Korosi adalah terjadinya reaksi kimia antara suatu bahan dengan lingkungannya. Secara garis besar ada

Jumat, 15 Februari 2013

Analisis Slab

By Admin | At 18.27 | Label : | 0 Comments
Dasar-dasar Analisis Slab 
Teori analisis slab, berdasarkan metode analisis yang digunakan, dikenal pula sebagai teori kesetimbangan gaya (force balance analisis) atau pendekatan kesetimbangan benda bebas (free-body equilibrium approach). Secara umum, analisis dilakukan dengan mengaplikasikan kesetimbangan gaya pada suatu potongan-potongan tipis logam (slab) dengan tebal berbeda-beda sehingga diperoleh persamaan diferensial untuk tegangan (dan regangan) dengan variasi hanya pada satu arah saja. Selanjutnya tegangan lokal, tegangan maksimum dan tegangan rataratanya dapat dihitung, untuk kondisi-kondisi pembatas (boundary conditions) yang telah ditentukan. 

Asumsi-asumsi Dasar 
Untuk dapat melakukan analisis diperlukan beberapa asumsi dasar seperti telah diuraikan pada 
1. Arah dari beban yang diberikan serta bidang yang tegak lurus terhadap arah tersebut menentukan arah-arah bidang utama. Tidak ada variasi tegangantegangan utama pada bidang ini. 
2. Walaupun pengaruh-pengaruh dari friksi permukaan masuk di dalam perhitungan kesetimbangan gaya, hal tersebut tersebut tidak berpengaruh terhadap distorsi internal dari logam atau orientasi dari arah-arah utama.
3. Potongan bidang tetap bidang, deformasi dianggap homogen di dalam penentuan regangan. Dengan kata lain, keadaan di dalam potongan tipis yang tegak lurus terhadap arah di mana terjadi variasi tegangan dan regangan dianggap homogen. 
Jadi variasi dianggap hanya terjadi pada satu sumbu saja, dan arah-arah utamanya adalah konstan, dapat diketahui, dan termasuk ke dalamnya sumbu di mana terjadi variasi. Asumsi tambahan lain yang dapat digunakan untuk menyederhanakan perhitungan numeris di antaranya adalah: material dianggap homogen dengan aliran logam konstan, simplifikasi-simplifikasi geometri dapat dilakukan, berlaku model material dan friksi tertentu, serta dapat dilakukan simplifikasi pada kondisi pembatas. 

Langkah-langkah Dasar 
Tiap-tiap jenis proses pembentukan logam memiliki karakteristik berbeda yang perlu diperhatikan di dalam analisis. Akan tetapi, secara umum terdapat persamaan langkah-langkah dasar di dalam metode analisis slab. Di dalam  telah diuraikan secara sistematis langkah-langkah dasar analisis slab, yang dapat secara konsisten diaplikasikan untuk berbagai proses pembentukan logam: 
1. Tentukan arah di mana terjadi variasi tegangan dan regangan yang paling penting. 
2. Perhatikan kesetimbangan dari potongan-potongan tipis logam (slab) yang tegak lurus terhadap arah ini, termasuk di dalamnya tegangan-tegangan yang disebabkan karena kontak dan friksi. 
3. Turunkan suatu persamaan diferensial yang sesuai untuk variasi tegangan pada satu sumbu. 
4. Gunakan teori-teori plastisitas untuk mengurangi fungsi-fungsi yang tidak diketahui. 
5. Aplikasikan kondisi-kondisi batas. 
6. Carilah solusi dari persamaan diferensial untuk memperoleh tegangan yang diinginkan.
Posting Lama ►
 

Copyright © 2012. Artikel Teknik Mesin - All Rights Reserved B-Seo Versi 3 by Bamz Templates